Press "Enter" to skip to content

Bukan Aku yang Membunuh Ayah

Mereka memaksaku untuk mengaku aku telah membunuh ayahku. Orang-orang pengadilan itu keras kepala. Ingin aku mengepruk kepala mereka dengan batu, kalau saja itu tidak menambah perkara. Aku bilang: bukan aku yang membunuh ayah, tetapi anjing sebesar remaja gemuk yang salakannya serupa auman harimau. Ia yang mencabik-cabik lengan, lalu leher, lalu mata ayah dengan ganas. Sulit kuhitung berapa kali telah kujabarkan begitu, namun mereka masih sekeras batu. Hari-hari berganti dan sikap mereka tidak berubah sedikit pun.

Selama proses pengadilan, aku ditempatkan di suatu sel khusus yang udaranya menyodok-nyodok perut dan membuatku hampir pingsan ketika pertama menempatinya. Sel itu sempit, gelap, dan sepertinya memang dibuat bukan untuk memberikan kenyamanan sebagaimana bangunan-bangunan pada umumnya, melainkan untuk membunuh penghuninya pelan-pelan. Sudah sering aku mendengar deskripsi tentang betapa buruknya sel tahanan. Hanya saja, saat merasakannya sendiri, ini seperti memakan sendiri buah apel busuk yang pernah orang ceritakan padamu betapa busuknya apel itu.

Dari waktu ke waktu, orang-orang pengadilan menyerangku dengan pertanyaan-pertanyaan itu saja; dengan apa kau bunuh ayahmu, mengapa kau membunuhnya, tidakkah kau merasa berdosa?. Aku muak pada pertanyaan-pertanyaan bodoh itu. Terutama pertanyaan terakhir yang mengesankan bahwa akulah pendosa besar, sedang mereka orang-orang relijius, baik dan penuh kesucian, dan akan menuntunku kepada jalan yang lurus. Cuih.  Bukan soal merasa berdosa atau tidak. Tetapi aku memang tidak pernah melakukannya. Bukankah malah dusta dan berbuah dosa jika aku mengakui sesuatu yang tak pernah ada dan terjadi?

Mereka tetap bersikukuh dan aku jauh lebih bersikukuh ketimbang mereka.

Mereka memintaku bercerita mengenai hubunganku dan ayah. Sayang sekali, mereka adalah segerombolan orang bergamis hitam dengan palu di atas meja dan kebengisan tersemat di dalam dada. Andaikan mereka guru Bahasa Indonesiaku, aku akan menceritakan pada mereka sepotong kisah indah antara seorang anak dan ayahnya, antara aku dan ayahku. Aku akan mengisahkannya seindah mungkin, karena guru Bahasa Indonesia tak akan marah-marah jika aku mengarang. Tetapi mereka orang-orang pengadilan, yang menjunjung tinggi kejujuran, saking tingginya mereka selalu membawa-bawa kitab suci dan memintaku bersumpah sambil memegang kitab suci sebelum bercerita.

Tatkala cerita, aku sengaja melewatkan hal-hal yang terjadi baru-baru ini. Aku lebih tertarik menceritakan soal hubunganku dengan ayah ketika kecil. Ketika ibu masih ada. Ketika aku, ayah, dan ibu selalu berwisata tiap akhir pekan. Ayah sering memberiku hadiah sebagaimana ia sering memberi ibu hadiah dan ibu juga sering memberiku hadiah. Hadiah merekatkan kecintaan di antara kami. Mengingat-ingat itu, aku ingin melompat ke masa lalu, jika saja semudah melompat dari satu kotak ubin ke kotak ubin lainnya.

Singkatnya, hubunganku dengan ayah baik-baik saja. Aku menyelesaikan ceritaku. Namun mereka menghardik dan bersuara lantang: Bukan itu yang kami ingin dengar darimu! Ceritakan pada kami bagaimana hubunganmu dengan ayahmu sampai-sampai kau mengambil suatu keputusan bodoh, yaitu menghabisi nyawanya.

Aku menyangkal: Kau salah, bukan aku yang menghabisi atau memutus nyawanya. Itu tugas malaikat maut, bukan tugasku.

Mereka meninggikan suara: Tidak ada waktu untuk berlelucon di sini!

Seharusnya aku bisa membuat satu sangkalan lagi, tapi mereka keburu menggeretku kembali ke sel. Di dalam sel, dua orang berseragam dengan badan segagah atlet dan senjata terselip di pinggang mengempaskan tubuhku ke pojok sel dan membentak: Sekarang ceritakan yang sebenarnya dan jangan membuang-buang waktu kami, anak muda tolol.

Apa yang ingin kalian dengar?

Agak gentar juga aku dikepung oleh dua orang berbadan tegap yang sewaktu-waktu dapat dengan mudah meremukkan kepalaku. Punggungku terasa nyeri. Empasan mereka sangat kuat. Kurasa mereka telah melakukan empasan keras semacam itu ratusan atau bahkan ribuan kali.

Tentu saja cerita mengenai dirimu dan ayahmu, anak muda tolol. Ingat, yang kami inginkan cerita soal manusia, bukan cerita soal anjing fiktif buatanmu.

Mereka salah, cerita soal anjing itu bukan cerita fiktif. Itu cerita betulan. Aku sendiri yang menyaksikannya. Aku melihat anjing besar berwarna hitam entah dari mana tiba-tiba berlari, menyalak, melompat, menggigit lengan ayahku hingga ia menjerit seperti terkena besi panas, lalu melompat ke leher ayah sehingga jeritan ayah semakin lengking, dan terakhir melompat dan mencabik-cabik sepasang mata ayah dengan kuku-kuku dan giginya. Setelah itu, jeritan ayah berhenti. Tubuh ayah terempas ke lantai seperti karung berisi makanan yang dijatuhkan begitu saja. Sementara anjing itu menghilang tiba-tiba sebagaimana kedatangannya yang juga tak terduga.

Ketika aku kembali menceritakan perihal anjing yang membunuh ayah, salah seorang dari dua petugas yang menginterogasiku, yang sedikit lebih tinggi dibanding kawannya, menghampiriku dan merenggut keras bajuku: Berhenti bermain-main dengan kami! Cepat katakan!

Aku tidak tahu apa lagi yang harus kukatakan karena semua yang kutahu dan kulihat sudah kukatakan. Haruskah aku mengarang dan mengganggap mereka guru Bahasa Indonesiaku?

Orang itu, yang lebih tinggi dan memiliki kaki lebih panjang menghantamkan lututnya ke perutku. Tubuhku melayang sesaat. Sakit. Mual. Aku hampir muntah. Ia merenggut bajuku, menghantamkan lututnya lagi, meninju rahangku. Di sela-sela waktu itu, selain menanggung rasa sakit yang semakin menjadi-jadi, aku mulai memikirkan suatu cerita perihal ayahku, suatu cerita yang mungkin bisa membuat mereka puas dan berhenti menginterogasi dan menyiksaku.

Aku akan ceritakan kepada kalian yang sebenarnya.

Suaraku terdengar seperti orang kumur-kumur. Mereka membiarkanku duduk dan bernapas normal. Mereka melempar sebotol air minum. Aku meminumnya dengan tergesa. Dengan sisa rasa nyeri di pelbagai bagian tubuh, kepala yang berdenyut-denyut, aku mulai bercerita pada mereka, cerita yang belum pernah kuungkapkan dan belum pernah mereka dengar.

Pada ulang tahunku yang ketiga belas, ayah membeli seekor anjing dan menghadiahkannya padaku. Anjing itu jinak dan kuberi nama serupa dengan nama ayahku. Ayahku hanya mengelus-elus kepalaku begitu mengetahui nama yang kuberikan untuk anjing itu. Aku bilang aku menamainya dengan nama ayah agar aku selalu mengingat ayah tiap bersama anjing ini. Aku suka sekali anjing itu dan itu adalah hadiah dari ayah yang paling kuingat dan kubanggakan.

Setiap hari selewat hari itu aku lalui dengan bermain-main bersama anjing yang namanya menyerupai nama ayah. Aku memberinya makan, mengajaknya jalan-jalan keliling komplek, melatihnya melompat dengan melempar bola karet tinggi-tinggi, bercengkerama dengannya, dan melakukan hal-hal menyenangkan lain bersamanya. Bersamaan dengan itu, aku menyadari satu hal: ayah tidak lagi mengajakku dan ibu berwisata tiap akhir pekan. Tiap akhir pekan ayah selalu bepergian ke luar kota, tapi tidak pernah mengikutsertakan aku ataupun ibu. Ayah pergi seorang sendiri. Begitu berpekan-pekan hingga tiba suatu hari ibu meminta agar ayah mengajak ibu dan aku pergi bersama-sama kembali, berwisata akhir pekan sebagaimana yang biasa kami jalani dulu. Ayah menimpali permintaan ibu dengan bentakan, amukan, dan setelahnya ayah dan ibu terlibat percekcokan sengit cukup lama. Itu kali pertama aku melihat ayah dan ibu bertengkar sesengit itu. Saat itu, anjingku yang bernama serupa nama ayah menyalak-nyalak keras untuk menghentikan pertengkaran ayah dan ibu. Dan itu pula kali pertama aku mendengar anjingku menyalak sekeras itu. Tak lama kemudian ayah dan ibu berhenti bertengkar. Ayah memasuki kamarnya, ibu duduk menenggelamkan kepalanya di sela tangan di ruang depan sambil menangis.

Bulan-bulan berikutnya pertengkaran-pertengkaran semacam itu masih sering terjadi dan anjingku selalu menjadi aktor yang menghentikan pertengkaran itu dengan salakannya yang memekakkan telinga.

Ketika aku berumur tujuh belas tahun, aku memperoleh hadiah ulang tahun paling menyedihkan. Ibu mati gantung diri di kamarnya dengan rambut semerawut dan lidah menjulur keluar seperti lidah anjingku saat minta makan. Aku tak menyangka ibu akan mati dengan cara setragis itu. Aku melalui waktu tanpa ibu dengan kemurungan tiada habisnya. Aku menyalahkan dan memaki-maki ayah, namun ayah tak menanggapi apa-apa, ia melulu diam seolah-olah ibu mati dengan membawa serta suara ayah ke dalam kuburnya.

Menjelang usia delapan belas, giliran anjingku yang mati. Ia mati dengan mulut berbusa. Keracunan. Aku kembali menyalahkan dan memaki-maki ayah atas kematian anjingku, namun ayah masih pula bungkam bagai orang bisu.

Dan menjelang hari ulang tahunku yang kesembilan belas, tepatnya dua minggu lalu, ayah mati. Seekor anjing hitam sebesar remaja gemuk dengan salakan seperti auman harimau yang membunuh ayah.

Sampai pada bagian itu, mereka memotong dan kembali membentak: Sudah kubilang, berhenti bermain-main dan jangan bawa-bawa lagi omong kosong soal anjing hitam itu!

Aku tidak sedang bermain-main dan semua yang kubilang barusan bukan omong kosong, sangkalku.

Salah seorang dari mereka, kali ini yang lebih pendek, mendorong kencang tubuhku, mengambil sepucuk pistol dari pinggangnya dan mengancam dengan mata seperti anjing marah: Ceritakan yang sebenarnya terjadi atau pelor dari pistol ini akan menembus batok kepalamu!

Ada satu bagian yang belum kuceritakan pada mereka. Aku sengaja tidak menceritakannya, karena percuma saja, mereka pasti akan semakin menganggapku sedang mengada-ada. Anjing hitam itu, anjing yang membunuh ayahku, sebenarnya tidak muncul tiba-tiba. Ia keluar begitu saja dari dalam tubuhku dan langsung mencabik-cabik ayah. Selepas itu, anjing itu kembali masuk ke dalam tubuhku seperti masuknya udara ke rongga dada.

“Tembak saja kepalaku!” Kata-kata itu meluncur begitu saja tanpa aku kehendaki. Seolah ada jiwa lain yang mengendalikan diriku dan meminjam mulutku untuk melontarkan kata-kata tersebut.

Ia, petugas yang lebih pendek, mengokang senjatanya dan bersiap menembakku. Jemarinya telah menempel pada pelatuk. Ditariknya pelatuk itu perlahan-lahan. Satu, dua, tiga, dan guuuukk!

Tiba-tiba saja, seekor anjing hitam sebesar remaja gemuk dengan salakan serupa auman harimau melompat dari dalam tubuhku. Anjing itu menghabisi dua petugas pengadilan persis seperti tatkala menghabisi ayah: menggigit lengan mereka, mencabik-cabik lehernya, dan membuat mata mereka koyak-moyak.

Selepas menyelesaikan urusannya, anjing itu melompat masuk kembali ke dalam tubuhku. Meninggalkan aku sendirian dalam sel yang sempit, gelap, apak, dan beraroma anyir darah. (*)

Bandung, Desember 2018

Erwin Setia lahir tahun 1998. Penikmat puisi dan prosa. Kini menempuh pendidikan di Prodi Sejarah dan Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media seperti Koran Tempo, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Solopos, Haluan, Koran Merapi, Litera.co.id, dan Cendana News.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *