Press "Enter" to skip to content

Jasa Berbincang

Jam 3 sore. Ia membuka pintu ruangan berukuran tiga kali tiga meter yang berada di sisi kanan rumahnya. Udara yang lebih hangat menerpa wajahnya. Ia menyalakan lampu meski cahaya matahari masih kuasa menerobos melalui angin-angin jendela. Tepat di tengah ruangan itu terdapat sebuah kursi putar hitam empuk yang menghadap sebuah meja berbahan kayu jati mengkilat berkat lapisan pelitur. Ia mengambil kemoceng bulu ayam yang tergantung di tembok sebelah kiri dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya menggenggam botol minum. Ia membersihkan meja dengan tangkas, meletakkan botol minuman di atasnya, sebelum bergerak menangani kursi. Ia kemudian mengembalikan kemoceng ke tempatnya dan tangan kanannya beralih meraih sapu yang teronggok di sudut ruang. Hanya dua menit waktu yang ia perlukan untuk menyapu lantai. Ia menaruh sapu di tempat asalnya sebelum membanting pantatnya yang terbungkus sarung di kursi. Dua kali ia memutar kursi itu dalam sebuah lingkaran sempurna, seolah mencari posisi terbaik yang akan menjaga wasirnya tidak kambuh. Terdapat sebuah perangkat berwarna hitam di atas meja itu, dengan tiga tombol di bagian depan, tepat di bawah layar LCD. Ia menekan tombol di bagian belakang perangkat tersebut untuk menyalakannya. Ia mengambil dan mengenakan pelantang-telinga yang terhubung dengan perangkat itu. Ia menunggu. Satu menit. Dua menit. Ia mendengar bunyi tut. Ia menekan tombol berwarna hijau – tombol depan paling kanan.

“Halo… tentu saja saya akan menemani Anda ngobrol. Iya… baiklah. Hmm… jadi anak Anda pergi dari rumah? Berapa usia anak Anda? Dua puluh dua? Saya kira ia sudah cukup besar. Iya… Iya, saya mendengarkan. Jadi ia sudah pergi selama tiga hari. Ia tidak meninggalkan pesan? Iya… iya… saya mengerti Anda kesepian. Tidak, tidak. Saya belum punya anak. Tapi saya bisa membayangkan bagaimana rasanya memiliki anak. Saya selalu ingin punya anak. Tidak, tidak. Istri saya baik-baik saja. Saya juga baik-baik saja. Kami tidak mandul. Hanya saja kami memang belum dikaruniai anak. Oh, begitu. Anda tinggal berdua dengan anak Anda itu saja. Oh, saya turut prihatin. Suami Anda pasti orang baik. Iya, semoga Tuhan memberikan surga kepada almarhum. Iya, saya juga berharap sopir truk yang ugal-ugalan menabrak suami Anda itu mendapatkan hukuman. Beberapa sopir truk memang seperti itu. Saya bisa mengerti. Tidak, saya tidak pernah menjadi sopir truk, hanya saja saya sering mendengar kelakuan mereka dari teman-teman saya. Bukan, bukan. Ya, ada teman saya yang menjadi sopir truk, tapi saya bisa pastikan bukan teman saya yang menabrak suami Anda. Tentu… tentu… saya tidak keberatan mendengar cerita Anda. Akan saya sampaikan kepada teman saya supaya memberitahu teman-temannya sesama sopir truk agar tidak ugal-ugalan lagi. Saya berharap anak Anda segera pulang. Semoga tidak terjadi apa-apa dengannya. Oh tidak… tidak… saya mohon jangan berpikir buruk. Anak Anda pasti akan pulang. Saya pernah mendengar cerita Sangkuriang. Ia juga pergi dari rumah meninggalkan ibunya selama bertahun-tahun, tapi pada akhirnya ia kembali pulang. Ya… ya… saya yakin anak Anda akan pulang. Seorang anak selalu pulang. Ia pasti merindukan Anda. Tentu… tentu… baiklah. Telepon saya lagi jika Anda membutuhkan teman bicara. Iya, saya selalu siap. Dari jam 3 sore sampai jam 6 pagi.”

Lalu terdengar bunyi tut panjang.

Ia menghela napas berat. Lantas terdengar tut sekali lagi. Ia kembali menekan tombol hijau.

“Halo… Maaf, suara Anda tidak jelas. Iya, saya tahu Anda menangis. Ambil napas panjang. Pelan. Lepaskan. Iya, begitu. Biarkan udara memenuhi dada Anda. Kosongkan. Oh, tidak, tidak masalah. Anda bisa menangis bila itu akan meringankan beban Anda. Iya, bahkan saya akan mendengarkan bila Anda menangis satu jam atau lebih. Tidak, tentu saja saya tidak akan protes. Saya berjanji. Tentu tidak apa-apa. Oh… iya, saya kira saya pernah membaca berita itu di surat kabar lokal. Hmm… jadi itu suami Anda ya… Jujur, saya juga berpikir bahwa dia sekadar korban ketika pertama kali membaca berita itu. Suami Anda tampaknya orang yang lugu dan tidak mungkin menggelapkan uang negara. Iya, saya mengerti perasaan Anda. Saya setuju. Memang begitulah watak orang yang punya jabatan tinggi. Mereka mau enaknya sendiri. Iya, tentu saja saya percaya. Pasti Bu, pasti atasan suami Anda yang korupsi dan suami Anda sekadar kambing hitam untuk menyelamatkannya. Oh, saya akan merahasiakan ini. Tentu saja. Saya profesional. Anda tidak perlu khawatir. Saya bisa memahami posisi Anda. Tentu saja mereka akan berpikir bahwa Anda dengan sengaja memfitnah atasan suami Anda bila percakapan ini bocor, apalagi Anda tidak memiliki cukup bukti. Tidak Bu. Saya bukan polisi, saya juga bukan intel yang ditugaskan untuk menyelidiki Anda. Iya, iya, saya mengerti Anda sekadar ingin menemukan seseorang untuk mendengarkan keluhan Anda. Saya akan merahasiakannya. Saya mengerti. Saya juga berharap seperti itu, Bu. Saya kira semua warga negara yang baik menginginkan pejabat-pejabatnya bermoral baik. Amin… amin… semoga suami Anda dibebaskan dan semoga atasannya mendapatkan hukuman. Amin… baik… terima kasih sudah menelepon saya. Iya, tentu Anda bisa menghubungi saya kapan pun Anda mau, dari jam 3 sore hingga jam 6 pagi. Baik… semoga masalah Anda segera selesai. Terima kasih.”

Tuuuut…

Ia mengambil botol minum. Membuka tutupnya. Meneguk air banyak-banyak. Tut… Ia menekan tombol hijau.

“Halo… Oh, iya. Tentu saja saya masih ingat suara Bapak. Saya tidak pernah melupakan Bapak. Iya, saya masih ingat. Karena itu saya memanggil Bapak. Bukankah Bapak tidak suka dipanggil Anda? Jadi bagaimana? Oh, anak-anak Bapak belum menjenguk ya? Mungkin mereka masih sibuk. Begitulah. Anak-anak selalu sibuk dan orang tua mesti menunggu. Iya. Oh, bukan begitu maksud saya. Tidak, Pak. Saya tidak bermaksud membela anak-anak Bapak. Lagipula saya tidak mengenal mereka, kan? Mereka memang semestinya tidak melupakan Bapak. Maksud saya, supaya Bapak tidak terlalu bersedih. Iya Pak. Iya Pak. Iya, saya mendengarkan Pak. Oh, tentu saya masih ingat cerita bagaimana Bapak membesarkan mereka seorang diri. Iya, bukan hal mudah membesarkan tiga anak laki-laki seorang diri, apalagi dengan ibu yang menderita kelainan jiwa dan mesti dipasung selama tiga puluh tahun sebelum akhirnya meninggal. Iya, saya masih ingat Pak. Iya, saya bisa membayangkan kesepian Bapak. Iya, seharusnya mereka tidak melakukan itu. Uh, saya juga tidak mengerti bagaimana anak-anak tega mengirim orang tua mereka ke panti jompo sedangkan mereka tinggal di rumah besar dengan banyak pembantu untuk merawat anjing-anjing peliharaan. Iya Pak. Perawat-perawat itu sepertinya memang baik. Iya, dan selain itu, mereka juga mengizinkan Bapak menelepon saya. Oh, itu yang mereka katakan? Tagihannya jadi mahal? Hahaha… ini memang layanan telepon premium Pak. Ada tarif khususnya. Iya. Tapi tidak masalah, kan? Syukurlah kalau anak-anak Bapak bersedia membayarnya. Oh, iya. Setidaknya mereka masih perhatian pada Bapak. Perawat-perawat itu juga pekerja Pak. Begitu? Iya. Hahaha… Bapak semakin lucu saja. Baik Pak. Terima kasih, Pak. Iya, saya juga berharap anak-anak Bapak akan segera menjenguk Bapak. Sudah dua bulan ini ya? Baik. Terima kasih Pak. Hubungi saya lagi jika Bapak membutuhkan teman bicara. Siap Pak. Baik Pak. Terima kasih.”

Tuuutt…

Tut.

“Halo… iya, benar. Oh, bukan. Ini bukan layanan telepon seperti itu. Tidak ada telepon sex di sini. Maaf, anda salah sambung.”

Ia menekan tombol merah. Bunyi tut panjang.

Tut.

“Halo… Betul. Iya, Anda benar. Ini memang layanan telepon untuk orang-orang kesepian. Bukan, tentu saja bukan. Anda bisa menceritakan apapun, atau mengeluhkan apapun. Iya, untuk membantu Anda mengatasi kesepian. Oh, begitu? Anda mendapatkan nomor ini dari iklan di Facebook. Wow, luar biasa. Hampir dua puluh jam sehari berselancar di media sosial? Itu mengejutkan. Tidak, tidak. Saya tidak mengatakan Anda anti sosial. Bukankah media sosial juga bagian dari cara bersosialisasi? Iya, kadang hal seperti itu tidak bisa dihindarkan. Iya, kadang saya sendiri juga merasa kalau media sosial sekadar kamuflase. Iya, bukan perhatian yang sesungguhnya yang kita dapat. Banyak orang yang memang tak lagi peduli kepada sesamanya. Tapi saya peduli kepada Anda. Aneh ya menyadari bagaimana media sosial justru membuat kita semakin kesepian?” ia menekan tombol kuning, mengambil air minum, menenggak sedikit, lantas kembali menekan tombol kuning. “Tidak, tidak, saya tidak menutup telepon. Iya, saya masih mendengarkan. Itu adalah tugas saya. Bagaimana ya? Saya tidak tahu. Saya bukan psikolog. Tapi saya selalu bersedia mendengar keluhan Anda dan menemani Anda berbicara. Tidak, tidak, saya tidak bisa memberikan solusi bagaimana mengatasi kecanduan Anda terhadap media sosial dan membuat Anda lebih berani menghadapi orang di dunia nyata. Maafkan saya. Tidak, saya melakukan apa yang saya bisa. Baiklah. Baiklah. Terima kasih. Saya berharap Anda baik-baik saja. Anda bisa menghubungi saya bila Anda membutuhkan teman bicara. Baik. Terima kasih. Selamat sore.”

Tuut…

Tut.

“Halo… oh, dengan siapa saya bicara? Kenapa suara Anda terdengar tidak asing? Baiklah, tentu tidak masalah bagi saya bila Anda tidak ingin menyebutkan nama. Hmm… Anda kesepian. Tentu saya tahu Anda kesepian. Orang cenderung menghubungi nomor ini bila kesepian. Oh, jadi seperti itu? oh, suami Anda terlalu sibuk bekerja? Ya, saya dapat membayangkannya. Jam kerja yang aneh. Begitu ya, setiap hari sepanjang minggu sepanjang bulan? hmm… dari jam 3 sore hingga jam 6 pagi? Hmmm… jadi ia langsung tidur setelah bekerja dan bangun sekitar jam 2, lalu mandi, makan, dan kembali berangkat kerja? Hmmm… Saya bisa membayangkan kesepian Anda. Ngomong-ngomong, apa pekerjaan suami Anda? Apa? Menemani orang-orang yang kesepian? Menemani melalui telepon? Hmm… kau… sialan kau! Kenapa kau meneleponku? Ini bukan mainan. Bukankah kau tahu aku sedang bekerja? Jam kerjaku memang seperti itu, goblok. Itu jam-jam puncak di mana orang-orang merasa kesepian, ketika mereka pulang bekerja dan tidak menemukan teman bicara. Tolol! Istri tolol kau!”

Ia menekan tombol merah dengan kasar.

Tuuuttt… [*]

Dadang Ari Murtono lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016) dan Samaran (novel, 2018). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *