Press "Enter" to skip to content

Sosrowijayan Kulon Gang Tiga

Cerpen Wahyu Rusnanto

Barangkali, di malam-malam ketika kau masih bercinta-bercerita dengan suamimu yang kini raganya telah dibawa menjauhi kepalanya dan purna ditelan semesta. Di rumah gedek yang dulu sekali kau bangun bersamanya, kau telah lupa memberikan kebahagiaan yang paling ia inginkan. Tentang masa yang akan datang di mana kau akan duduk di sampingnya dengan rambut yang sebagian memutih, di beranda rumahmu yang halamannya menyemak kembang-kembang kenanga serta alamanda. Ia akan memandangmu—dengan kelopak matanya yang keriput—penuh cinta penuh bahagia, dan mengucapkan kata-kata yang tentu saja akan membuat seruang dadamu berbunga-bunga. Sementara, seorang perempuan mungil tersenyum di depanmu, lantas bercerita kepadamu tentang betapa jelita parasnya yang masih belia dan tentang sepucuk surat penuh rindu yang ia dapatkan tempo hari dari seorang lelaki.

Namun, segala yang kau kehendaki untuk kebahagiaan suamimu tidak pernah terjadi. Kau tidak pernah memiliki rumah dengan beranda penuh kembang kenanga atau alamanda. Juga perempuan mungil yang tersenyum sebab memintamu untuk membacakan surat cinta yang ia dapat dari seorang pemuda. Ah, betapa nestapa. Sebab yang kini kau lakukan hanyalah duduk pada beranda sebuah kontrakan tua yang dipenuhi lampu-lampu berkelip dan musik dangdut di Sosrowijayan Kulon Gang Tiga. Kau menanti dan berharap ada beberapa lelaki yang datang dan rela memberikan sedikit uang di kantongnya untuk bercumbu bersamamu barang satu atau dua jam. Sementara lelakimu yang dulu pernah menujahkan ciuman di sekujur tubuhmu, hanya duduk di sebuah kursi tua tak jauh darimu, menatapmu tanpa gaya, tanpa upaya, tanpa tahu harus berbuat apa. Aih, mata yang dulu cemerlang serupa kaca jelita itu kini menampakkan kemuraman yang terlampau celaka, memantulkan luka yang entah kapan akan reda. Mata yang memangdang kejauhan, barangkali mencari kau yang sirna, atau barangkali mencari bahagia yang purna, ah barangkali…

***

Karto mendengar desah resah Sur yang terlanjur basah, pada sebuah kamar di sebuah di rumah yang dulu melahirkan kebahagiaan bagi mereka. Desah-resah penuh berahi yang sesekali menegangkan bulu romanya, serta membuat darahnya berdesir dan jantung yang entah mengapa berdetak tak kenal jenak. Ada kecemasan dalam raut wajahnya yang melulu menampakkan gusar, ketika desah itu terdengar semakin kencang dan bergema hingga menembus dinding retak kontrakan yang Karto dan Sur sewa guna menyambung hidup di panas-kerasnya Yogyakarta. Tentu saja, ada api yang membara di hatinya, amarah yang membumbung di kepalanya serta darah yang bergejolak. Namun, Karto tak dapat berbuat apa, ia hanya duduk tanpa daya-tanpa gaya. Strooke, telah meluluhlantakkan tubuhnya, tak ada lagi yang dapat ia gerakkan kecuali mata, tangan serta mulut yang bergumam tidak jelas. Ah, tubuh yang dulu kekar serupa batang pohon mahoni itu kini ringkih tanpa daging, habis oleh luka yang tak kunjung mereda atau penyakit yang terlanjur melilit.

Namun, meski amarahnya telah mengusai hatinya sedemikian rupa. Tapi, Karto tak dapat memungkiri bahwa ia sudah terlanjur mencintai Sur. Ah, Sur, Perempuan yang mencuri hatinya ketika pertama kali ia menginjakkan kaki di Sosrowijayan Kulon Gang Tiga sebagai pelanggan. Gang kecil yang setiap malam dipenuhi lelaki yang sekadar ingin mencicipi kemaluan berbagai perempuan, atau remaja yang penasaran bagaimana rasanya bercinta, atau para pekerja yang lelah dan ingin merasakan kehangatan walau satu malam. Gang itu tempat berkumpulnya bunga raya di Yogyakarta, ah, Karto sangat hapal dengan bau alkohol bercampur parfum menyengat yang ia cium ketika memasuki gang itu—setelah sebelumnya ia membayar lima ribu untuk biaya masuk. Lampu yang bekerlap-kerlip dan musik dangdut teramat kencang keluar dari setiap rumah, losmen dan tempat karaoke membuat gang itu terasa sangat ramai. Selain itu banyak perempuan dengan pakaian seksi yang berjejer di sisi jalan serupa pragawati yang menyambut tamu agung. Perempuan-perempuan itu didampingi seorang germo yang biasanya memiliki tubuh yang kekar, germo itu akan menawarkan mereka kepada setiap pelanggan yang datang. Karto melihat berbagai perempuan yang menjajakan tubuhnya, serta tamu yang berasal dari berbagai daerah, ia mengetahuinya dari bentuk wajah, warna kulit serta bahasa yang mereka gunakan. Maka, setelah berjalan beberapa jenak, ia menemukan Sur yang sedang duduk bersilang kaki di depan sebuah rumah berwarna merah darah.

Ia masih ingat betul, ketika itu perempuannya mengenakan kaos ketat tanpa lengan berwarna merah serta rok mini jeans biru dan sepatu hak tinggi. Karto mengingatnya, tubuh yang tidak terlalu kurus juga tidak terlalu gemuk, kulit putih halus serta rambut yang menggantung di punggungnya. Duh, tentu saja ia tak akan pernah lupa, terutama dada ranum yang serupa buah kelapa, serta lesung pipit dan bola mata Sur yang terus saja memaksa Karto untuk lebih menyelam dan tenggelam di kedalamannya. Akhirnya, tanpa daya dan tanpa terpaksa, Karto menyerah, lantas menghampiri Sur yang ketika itu sedang mengapit sebatang keretek di antara telunjuk dan jari tengahnya.

Lalu, Sur membawa Karto masuk ke dalam rumah dan mengajaknya ke sebuah kamar  yang hanya diisi oleh sebuah ranjang dan lemari kecil di tengah dan pojok ruang. Ruangan itu remang, namun Karto masih dapat melihat tubuh Sur yang serupa pelita di antara keremangan itu. Aih, Sur mengajaknya duduk di samping ranjang dan Karto merasa sangat bahagia, melihat perempuan itu duduk di hadapannya, ia tersenyum begitu pula dengan Sur yang tadi telah mematikan kereteknya.

Sur menujahkan pandangan tajam ke matanya, menjejalkan tatapan cinta yang Karto sendiripun tak dapat membendungnya, hingga tatapan itu pun turun dan menebarkan benih cinta ke seruang dadanya yang sebenarnya telah sedari tadi berbunga-bunga. Lalu, Karto pun menerima saja segala apa yang Sur berikan kepadanya. Bibir Sur yang sehalus kelopak bunga kertas,  Karto biarkan menciumi-melumat setiap lekuk bibir, wajah serta leher serta tubuhnya. Karto merebah-mendesah-basah, menyerahkan segalanya kepada perempuan itu. Hingga akhirnya ia melenguh dan terkulai dengan Sur yang terlentang dengan napas memburu di sebelahnya. Karto dan Sur tersenyum.

 “Sepiro suene ko’e neng kene, Sur?1tanya Karto, setelah bernapas beberapa jenak, serta melihat surti bangkit dan kembali mengenakan pakaiannya.

“Ah, nembe setahun, mas,2ucap Sur yang telah memakai pakaiannya dan menyalakan lagi kereteknya yang sempat padam.

“Akeh, wong lanang sing ngancani ko’e saban bengi?3

“Lumayan mas, seko macem-macem daerah, ono wong papua, sumatra, sunda lan lio-lione, nanging akeh-akehe tamuku wong Kalimantan,4kata Sur, ia menatap mata Karto lekat, sembari sesekali menghisap kereteknya dan mengepulkan asapnya ke udara.

Karto terpesona dengan tatapan mata Sur yang langsung menghujam ke matanya, bola mata yang hitam pekat itu seperti menariknya dan mengirimkan desir yang membuat darah Karto bergejolak. Ah, mata yang gelap pekat sejelaga malam itu, membuat jantungnya berdetak hingga membuatnya ingin teriak, rasa itu, seperti tiga ekor burung kecer yang menggepakkan sayapnya di dada Karto, sesak dan berat. Maka semenjak itu, tahulah Karto bahwa ia telah jatuh cinta pada Sur, dan cemburu apabila ada lelaki lain yang tidur dengannya, tidak peduli Sur adalah pelacur yang mencari duit di Sosrowijayan Kulon Gang Tiga ini.

“Aku tresno koe, Sur. Mulai dino iki ko’e karo aku wae, rabio ro aku,5ucap Karto Spontan.

“Yo, ra iso, mas. Awakku iki dagangan, ra iso dimonopoli. Wong awakku iki nggone kebudayaan, nggone kabeh wong, kabeh daerah, aku iki mempersatukan keberagaman, wong semen tiap lanang macem-macem daerah iku, nyatu ning wetengku,6kata Sur sembari tertawa renyah.

Karto, mengingatnya ketika ia ditolak oleh Sur malam itu. Meskipun kemudian ia tersenyum karena alasan Sur yang nyeleneh. Namun ia tak lantas menyerah, sehingga setiap malam ia akan datang ke lapak Sur lebih awal dengan membawa bermacam hadiah serta meniduri Sur sebelum orang lain sempat menidurinya. Bahkan, jikalau ada waktu Karto akan membawa Sur berkencan untuk menikmati malam di sebuah angkringan atau sekadar melihat-lihat—dagangan batik, kerajinan, pengamen dan lainnya yang berjejer di depan pertokoan—serta duduk di bangku taman jalan Malioboro. Ah, Jogja, tempat orang-orang berkumpul dari berbagai daerah, namun, semuanya seperti melebur tanpa memandang dari mana mereka berasal. Duh, tentu saja perlakuan manis yang selalu dilakukan Karto kepada Sur, lambat-laun membuatnya jatuh cinta pula kepada Karto, hingga di purnama kedua bulan Februari, Sur menerima lamaran Karto dan berjanji akan mengabdikan hidup serta tubuhnya hanya kepada Karto saja.

Karto mengingat semua hal itu. Di tubuhnya yang tidak dapat lagi digerakkan, masih tersimpan cinta yang teramat dalam kepada Sur, meski tak sedikit pula kebencian dan amarah yang ia pupuk setiap hari di rongga dadanya. Maka ketika ia masih mendengar desah resah yang hampir membuatnya basah di kamarnya itu, benci yang ia rasakan kembali menguar dan membumbung di atas kepalanya.

***

“Ah, mas, mesakke banget ko’e.7

Kau menghela napas, menatap mata lelakimu yang tak lagi menampakkan kecerian. Ada sebuah desau kerinduan yang kau rasakan di seruang dadamu, untuk melihat lelakimu kembali berjalan dan tersenyum dan mencumbuimu lagi sedemikian rupa setiap malam. Namun, hal itu tak mungkin terjadi, sebab lelakimu kini telah ditelan semesta, tidak ada lagi bagian dari lelakimu selain tubuh yang perlahan mati, perlahan sunyi.

Tentu di relung paling dalam jiwamu, kau masih mencintai suamimu. Namun, perlakuannya kepadamu tiga tahun yang lalu—sebelum lelakimu terkena strook—terlampau membuat hatimu tersayat dan tidak begitu mudah untuk memaafkan. Ah, hati yang dahulu berbunga-bunga itu kini telah tergerus-terbungkus oleh luka yang terlampau lara.

Kau pun masih mengingatnya dengan jelas, ketika lelaki—yang kini duduk dikursi tanpa daya-tanpa upaya itu—melamarmu pada purnama kedua di bulan februari, dan kau menerimanya dengan dada penuh rasa bahagia. Maka kau dan lekakimu menngucap janji, bersumpah setia sehidup-semati. Setelah menikah yang dicap disahkan lembaga agama. Diputuskannya bahwa kalian akan tetap tinggal di Sosrowijayan Kulon Gang Tiga sampai suamimu memiliki kemampuan untuk membeli rumah di luar, dan kau yang tidak lagi menjajakan tubuhmu untuk lelaki lain, melainkan untuk suamimu saja. Maka, kau pun hanya menjual rokok atau minuman keras serta kondom bagi para tamu yang membutuhkan. Ah, kau merasa sangat bahagia dengan pernikahanmu, rasanya suamimu itu telah mengeluarkanmu dari jerat lingkaran yang dulu kau pikir selamanya kau tak akan pernah bisa keluar.

Maka, setiap malam kau bercinta dengan suamimu, menyerahkan segala apa yang kau miliki, kau mendesah, merebah, basah, memberikan segala cinta segala bahagia, segala apa yang ditanggung dada. Berharap semua cinta yang kau berikan itu, melahirkan cinta baru yang akan kau hadiahkan kepada suamimu.

Namun, kau tak pernah memberikan hadiah itu kepada suamimu. Bahkan setelah empat tahun dari hari perkawinanmu. Kau tak pernah benar-benar melahirkan buah cinta yang sangat kau idam-idamkan. Setelah ketika itu,—enam bulan setelah kau menikah—kau mengandung dan sangat berbahagia, hingga kau serta suamimu telah menyiapkan segala apa yang dibutuhkan untuk menyambut kelahiran sang jabang bayi. Tapi, bayi itu tak pernah benar-benar terlahir, ketika lima bulan usia kehamilan kau terbangun dari tidur dengan perut yang telah mengecil dan tidak ada apa-apa di antara selangkanganmu selain darah yang merebah-basah. Kau pun menjerit dan membuat suamimu bangun yang setelahnya menjerit dan berteriak pula menyumpah-memaki-mengutukimu serta bertanya apa yang telah kau lakukan kepada bakal bayinya?

Ah, kau pun tak mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi. Kau tak bermimpi atau menangkap isyarat apa pun perihal kejadian itu. Tak merasa aneh apa pun di dalam perutmu atau sakit apa pun yang menyentuh tubuhmu. Barangkali, bakal cabang bayimu ditangkap semilir malam dan dibumbungkan ke udara di atas pucuk rumahmu sebagai karma atas dosa pekerjaan yang kau jalani sebelumnya, ah, kau tak tahu. Setelah peristiwa itu, suamimu pun berubah. Tak ada lagi belaian halus, kecupan atau bahkan sapaan mesra darinya. Ia hanya berbicara denganmu sesekali, itu pun apabila menyangkut hal-hal tentang kewajiban seorang istri melayani suaminya. Seperti, membuatkan makanan, menyeduhkan kopi, menyuruhmu mencuci baju dan lainnya. Kau tak lagi merasakan kehangatan cinta yang awal-awal suamimu berikan. Bahkan, setelah peristiwa itu, ia lebih sering memarahi serta memakimu untuk kesalahan-kesalahan yang sepele. Dan apabila kau melawan, tak segan ia akan menempeleng wajahmu hingga akhirnya kau berlari ke kamar dan menangis sejadi-jadinya.

Tentu saja, ketika itu kau memupuk kebencian dan dendam di seruang dadamu. Hingga akhirnya, sepulangnya kau membeli rokok untuk kau jual malamnya, kau menemukan suamimu tergeletak di kamar mandi dengan tubuh yang kaku dan kedua bibir yang bersilangan arah. Dan kau pun bersyukur, sebab suamimu tak lagi bisa memaki atau menempeleng wajahmu.

Maka dengan suamimu yang tidak lagi dapat memberikanmu uang yang cukup. Kau kembali menjajakan tubuhmu di depan rumah. Tak peduli suamimu melihatnya atau marah karenanya. Kau kembali berdandan dan membaluri bibirmu dengan gincu untuk menarik minat para tamu. Ah, tentu saja, kau sangat merindukan mengenakan pakaian yang menujukkan setiap lekuk tubuhmu. Lalu, dada yang selalu kau bangga-banggakan itu akhirnya dapat dinikmati oleh lelaki selain suamimu. Juga kau pun rindu bercumbu dengan macam-macam lelaki, mendengarkan mereka berbicara sesuai bahasa mereka, atau memperlakukanmu sesuai dengan daerah mereka ketika di ranjang. Sebab yang kau ketahui, setiap orang dari daerah yang berbeda memiliki cara tersendiri untuk memperlakukanmu. Itulah sebabnya, dahulu kau mengatakan kepada suamimu bahwa kau dan Sosrowijayan Kulon Gang Tiga ini mempersatukan keberagaman.

Maka, kau pun tak peduli, saat suamimu menatapmu lekat dengan kebencian ketika kau membawa masuk ratusan lelaki ke kamar yang dulu kau pakai untuk bercinta dengannya. Ah, kau pun dengan sengaja mengencangkan setiap desah yang terlampau resah dan basah ketika bercinta dengan para tamumu, berharap suamimu mendengar dan mengobarkan api cemburu yang kau tahu sebenarnya telah berkobar-kobar.

Namun, setelah kau bercinta dengan setiap tamu, mengantarkan mereka ke depan rumah dan menghadiahi mereka dengan sebuah kecupan, kau kembali melihat suamimu yang tak lagi mempunyai tenaga untuk sekadar memakimu atau menempelengmu, karena telah berani mencium lelaki lain di hadapannya. Kau akan menatapnya, dan entah mengapa perasaan iba akan menjalari dadamu. Lantas, dengan tanpa disangka olehmu kau akan tersenyum dan menghapiri suamimu.

***

Malam pekat ketika suara desah yang telah membuat Karto gelisah itu berhenti terdengar di telinganya. Sur muncul dari pintu dengan seorang lelaki hitam besar dengan rambut kriting pendek, di tangannya tergenggam lima lembar uang seratus ribu. Sur mengantarkannya ke beranda dan tak lupa mengecup pipi lelaki itu—seperti yang biasa ia lakukan pada setiap tamunya. Karto menatapnya lekat, ada kebencian yang dirasakan di seruang dadanya. Ukh, benci yang sedang ia rasakan di dadanya itu, seperti bergemuruh, bergejolak hingga akan meledak. Namun, yang bisa diekspresikan Karto hanyalah erangan dan tangan yang memukul-mukul pelan kursi yang sedang ia duduki.

Sur menatap balik matanya. Entah mengapa di tatapannya kali ini, Karto merasakan kehangatan yang entah datang dari mana. Lalu Sur pun tersenyum, ia berjalan perlahan menuju Karto, yang matanya menunjukkan kebingungan. Diraihnya tangan Karto, lalu dengan senyum dan ketengangan yang mengerikan, Sur menuntun tangan Karto ke sebalik bajunya, membiarkan tangan yang lemas itu sekali lagi menyentuh dadanya. Kemudian tangan Sur menuju celana Karto, dan membuat mata Karto terpejam. Ah, meski tubuh Karto telah lumpuh, tanpa gaya-tanpa upaya bukan berarti membuat kemaluannya tak berdaya. Dan Sur tahu betul dengan itu, maka tangan Sur pun terus bekerja, hingga membuat Karto melenguh dengan erangan yang menyedihkan. Sur tersenyum, ia menarik tangannya dan membersikannya di baju Karto. Malam semakin pekat, sementara musik dangdut masih terus terdengar nyaring dari rumah, losmen atau tempat karaoke di sebelah rumah Karto. Begitu pula masih banyak perempuan yang masih berjejer dan menawarkan dirinya pada setiap tamu yang datang. Sementara kegiatan masih terus berlanjut di Sosrowijayan Kulon Gang Tiga, Sur merangkulkan lengan Karto ke bahunya dan memapah Karto ke sebuah kamar yang berada dekat dapur dan membaringkannya. Sur tersenyum kembali, lalu bangkit dan keluar kamar. Tak berselang lama, suara desahan Sur kembali terdengar di telinganya. Ah, desah yang gelisah, desah yang basah. Karto mencoba tersenyum, berpikir, hingga pikirannya membuat ia mengingat alasan Sur awal menolaknya dahulu. Lantas, Karto terlelap dengan tawa dan duka melebur di dadanya. [*]

1 Sudah
berapa lama di sini, Sur?
2 Ah,
baru setahun, Mas.
3 Banyak
lelaki yang menemanimu setiap malam?
4 Lumayan,
Mas, dari berbagai daerah, tapi kebanyakan tamuku orang Kalimantan.
5 Aku
mencintaimu, mulai malam ini kamu sama aku saja, menikahlah denganku.
6 Ya,
nggak bisa, Mas. Tubuhku ini dagangan, nggak bisa dimonopoli, orang tubuhku ini
milik kebudayaan, milik semua orang, semua daerah, aku ini mempersatukan
keberagaman. Air mani setiap lelaki dari berbagai daerah itu, nyatu di perutku.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *