Press "Enter" to skip to content

Puisi-Puisi Firda Rastia

Kepada Mbah Manding

Apakah arti kesedihan, Mbah?

seperti rengginang dalam toples Khong Guan

atau seperti fragmen yang tergantung di dinding tanpa nama itu

Aku tidak tahu

Namun,

Sesekali bicaralah pada pagar tua itu, Mbah

Sambil menyuguhkan makan malam

untuk itik-itik yang menunggu ibunya pulang

Duduklah dengan  damai

di depan teras yang catnya sudah terkelupas

kelak, aku datang lagi (atau tidak)

bacakan cerita tentang Manding dan sekitarnya

tentang sumbing yang selalu pada tempatnya

tentang cucu-cucu yang tak pernah kedengaran suaranya

tentang sungai yang tak bermuara

Juga,

tentang orang tua berkaki panjang

duduk sendirian di bangku yang mulai ringkih

2018


Kepada Lelaki Bernama Lukas

Di sore yang basah

Anak-anak lelaki itu bernama Lukas

Bersandar pada senja yang terkelupas

Gerimis bulan Mei menyapa sekilas

Selanjutnya hujan merebas

Anak lelaki bernama Lukas

Merapal rumus-rumus Archimedes

Sambil mendaras doa Atas Nama Yang Kuasa di kepalanya

Ia malah merambah deret-deret Fibonachi

Ah, Lukas.

Tugasmu terlalu banyak sebagai seorang sahaya

Kepalamu terlalu lunak menyerap angka-angka

Tapi Lukas hanya Lukas.

Menghitung jumlah kubik air di sore yang deras

“Aku berlindung pada-Mu. Aamiin”

Lelaplah Lukas dalam penahbisan

Untuk lelaki yang selalu berdoa sebelum makan

2018


Iblis-iblis yang Keluar di Tubuhku

Malam tadi,

bapak menamparku dengan seutas bambu

mengatakan kalau iblis telah bersarang di tubuhku

mencaci dalam diam yang terkunci

Namun, iblis tetap pada tempatnya

diam sambil memendam dendam

Paginya,

Ibu mengomeliku dengan api-api di mulutnya

berteriak mengumbar nafsunya

katanya, iblis di tubuhku telah mengganggunya

sebab ibu belum berencana berhenti memaki

di menit kelima seperti biasanya

Iblis diam saja, memainkan segala emosi

dalam jiwaku yang telanjur dibuat sunyi

2018

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *