Press "Enter" to skip to content

Pekuburan Suci

Cerpen Deri Lesmana

Pada hari terakhir dalam hidupnya di bumi, Donta akan bernasib sama seperti banyak leluhurnya. Namun ia tak tahu hal itu, yang ia tahu hanya kenyataan bahwa hari ini panas sekali dan ia sangat kehausan. Sekaligus kelelahan karena usia tua—sesuatu yang juga membuatnya harus menetap di bawah pohon besar di tepi danau ini, berhenti turut serta dalam perjalanan keluarganya ke selatan.

Telah lebih dari setengah hari Donta hanya menatap danau, melihat kilau yang diciptakan oleh air dan sinar matahari. Dari belakang tubuhnya yang besar, angin terus berhembus dan menggoyangkan kedua kupingnya yang lebar. Semua itu memberi kesegaran baginya, tetapi Donta harus segera beranjak minum; mulutnya telah sekering tulang babi di tengah gurun.

Donta pun bangkit perlahan. Setelah bersusah payah, kaki-kakinya yang lemah mampu juga mengangkat dan menahan tubuhnya. Kini ia melangkah, satu-dua hasta. Di permukaan tanah yang lunak, setiap habis dijejak kakinya, sebuah ceruk tercipta dan rumput-rumput tipis menempel di dasarnya. Seekor elang terbang rendah, mengitari danau dengan cepat.

Hanya perlu beberapa langkah, Donta sampai di tepi danau. Ia lihat hamparan air yang kehijauan; kaki-kakinya yang lama kering mulai terendam air, tetapi Donta masih harus berjalan satu-dua langkah lagi. Satu-dua langkah lagi sampai perutnya terendam air. Satu-dua langkah lagi sampai ia bisa minum dengan cara menunduk dan memasukkan mulutnya ke muka danau.

Sayangnya, Donta tak pernah sampai ‘menunduk dan memasukkan mulutnya ke muka danau’. Saat pangkal-pangkal pahanya mulai terendam, lumpur yang menjadi dasar danau kian tak bisa diajak bekerja sama—tubuh Donta terlalu besar dan berat untuk ditahan. Donta panik dan meronta; kaki-kakinya kian masuk ke lumpur setiap kali ia bergerak. Tubuhnya kian masuk ke  dalam danau, lalu terbalik tanpa apa pun yang bisa dijadikan penyangga agar ia bisa berdiri lagi.

Air bergerak kacau dengan warna yang kini kecoklatan.

***

“Ayolah,” lelaki itu menaruh bokongnya di sisi meja yang berhadapan dengan Yongki. “Beritahu aku di mana kuburan itu.”

Yongki tetap diam, menatap kosong dan tak lagi berusaha menggerakkan kedua tangannya yang terikat di belakang kursi. Ia tahu betul kalau ia terus diam begini, lelaki itu akan melakukan hal-hal yang lebih kejam dari sebelumnya. Namun ia pikir, bahkan bila aku harus mati tak apalah. Maka Yongki tak sedikit pun membuka mulutnya—yang dipenuhi rasa asin sebab luka-luka di rongganya terus mengeluarkan darah.

“Apa gunanya melindungi yang sudah mati?” kata lelaki itu, sambil menyalakan rokok. Asap berbau tembakau memenuhi ruangan, begitu cepat karena lelaki itu merokok dalam keadaan sangat kesal.

“Bukankah lebih baik aku mengambil dari yang sudah mati?” lelaki itu bangkit, berdiri dengan satu tangan di pinggang. “Dari pada aku membunuh, lalu orang-orang yang betah miskin sepertimu bakal lebih bawel lagi.”

Yongki masih diam, hanya menggerakkan matanya ke sisi ruangan yang dijadikan tempat untuk menyandarkan pucuk-pucuk senapan. Salah satunya pernah dipakai untuk menembak ayah, pikirnya. Hari ini, sangat mungkin, lelaki itu pun akan menembak Yongki dan membuang mayatnya di tengah hutan belantara. Yongki sadar betul kemungkinan itu, tetapi ia terus diam dan berpikir tak apalah

“Di mana kuburan itu, Keparat!” lelaki itu habis kesabaran; tangan kanannya yang memegang rokok bergerak cepat ke kening Yongki. Ia tak memukul, tetapi mematikan rokoknya di kening Yongki; pecahan bara berjatuhan ke pipi, ujung hidung, dan bibir atas Yongki. “Di mana?!” lelaki itu membentak lagi, lalu menendang dada Yongki yang terbuka dengan tapak berlapis sepatu tebal-keras.

Kini lelaki itu seperti lebih ingin membunuh daripada menerima jawaban. Berulang kali tubuh Yongki yang terjungkal ditendang: di paha, di perut, di dada. Yongki terus menatap kosong, sesekali terpejam-dalam karena banyaknya rasa sakit yang mesti ditahan. Ia pun tak memberontak saat lelaki itu memaksa kepalanya untuk menoleh ke kiri dengan injakan yang, kapan saja, bisa berlanjut menjadi gerakan pematah leher.

Tinggal sekali hentak, lalu Yongki akan mati—ia tahu betul, tetapi tak apalah…

***

Sebelum memutuskan untuk bangkit dan beranjak ke danau, Donta ingat ibunya yang tiba-tiba keluar dari barisan saat keluarganya melakukan perjalanan ke utara. Kemudian ibunya berjalan ke arah yang lain, memasuki barisan pohon yang di sela-selanya ditumbuhi rumput-rumput tinggi. Saat itu, Donta belum tahu mengapa ibunya melakukan hal yang demikian dan tak pernah menemuinya lagi.

Namun berpuluh tahun kemudian, Donta mengerti: tak banyak yang bisa dilakukan dengan tubuh tua dan siapa pun yang memilikinya harus mengasing, tak boleh menjadi beban bagi perjalanan keluarga. Maka dua hari lalu, Donta melakukan apa yang dilakukan ibunya: memilih untuk menetap di sekitaran danau yang dipenuhi rumput dan pohon-pohon, membiarkan keluarganya melanjutkan perjalanan…tanpa dirinya. Kalau pun harus mati, ia mati dalam kesendirian.

Begitulah yang telah ia pahami, tetapi kematian bukan sesuatu yang bisa diterima begitu saja dengan tenang. Saat punggungnya menyentuh dasar danau, Donta masih meronta. Ia coba membalikkan tubuhnya, tetapi setiap gerakan yang ia lakukan hanya membuat danau kian coklat. Tak ada lagi peluang untuk menyelamatkan diri. Perlahan, Donta pun diam karena kelelahan; kini ia tahu bahwa beginilah saat-saat terakhir dalam hidupnya: dingin dan sesak.

Di tempat lain pada waktu yang sama, telah tak ada kaki yang menginjak kepala Yongki. Sekaligus telah tak ada leher yang bisa digunakan di tubuhnya. Kini ia, dengan sisa kesadarannya, sedang mengenang wajah seorang lelaki yang menenangkan. Wajah milik ayahnya. Bagaimana wajah itu tersenyum saat pohon mangga yang Yongki tanam akhirnya berbuah untuk pertama kali; bagaimana wajah itu selalu memancarkan cinta yang sungguh-sungguh; bagaimana wajah itu tak sedikit pun dinodai penderitaan saat…

Sebenarnya, Yongki juga berharap seseorang menemaninya saat ini. Ia ingin menunjukkan bahwa, ketika menghadapi kematian, ia bersikap sama seperti ayahnya. Kemudian yang menyaksikannya akan berkata suatu saat, “Aku mengenal pemuda itu, ia telah melindungi pekuburan suci sampai mati”.  Namun tak ada siapa pun saat ini, termasuk lelaki itu—ia telah keluar ruangan dan menghadap lelaki berkacamata hitam di ruangan yang lain.

Tak apalah. Udara yang mengabarkan kematianku bakal meneguhkan pemegang-rahasia yang lain, kata Yongki. Kemudian begitulah, nyawa Yongki terlepas perlahan dari tubuhnya. Hal terakhir yang didengarnya, sebagai manusia, adalah suara langkah kaki yang cepat dan pintu yang dibuka dengan kasar.

“Bodoh, sekarang ia mati!” bentak lelaki berkacamata kepada rekannya. Meski Yongki tak mendengar bentakan itu, ia telah tahu bahwa kedua lelaki itu akan kesulitan mencari orang lain. Orang yang bisa mereka paksa untuk memberitahu di mana letak pekuburan suci. Kalau pun mereka akhirnya berhasil, mereka tetap tak akan menerima jawaban—setidaknya, itulah yang Yongki percaya sampai akhir hayatnya.

***

Nasib yang Donta hadapi telah pula diterima oleh banyak leluhurnya. Namun ia tak tahu hal itu, yang ia tahu hanya dasar danau dingin sekali dan nafasnya hampir habis. Kini ia hanya bisa menunggu nyawa terlepas dari tubuhnya dengan kedua mata terpejam; lumpur yang terangkat karena gerakan tubuhnya tadi mulai turun perlahan—sampai juga ke wajahnya.

Saat matahari kembali terlihat di atas sana, di muka danau yang menemui bening dan tenangnya lagi, tubuh Donta telah kaku. Tak ada yang bersedih atas kematiannya, bahkan dirinya sendiri. Ia telah hidup lama dan begitulah semesta bekerja. Suatu hari, saudara atau anaknya akan juga sampai ke sekitaran danau ini—mereka yang berusia tua dan, dengan bijak, keluar dari barisan keluarga yang sedang melakukan perjalanan.

Seperti Donta, mereka yang datang akan kehausan dan harus minum dengan cara ‘menunduk dan memasukkan mulutnya ke muka danau’. Kapan saja mereka memutuskan untuk beranjak minum, saat itulah mereka menyongsong kematian yang dingin dan sesak. Namun di suatu tempat, barangkali, semua yang mati akan berkumpul dan melakukan perjalanan bersama-sama lagi sebagai keluarga yang besar. Jika begitu, maut bukan sesuatu yang merugikan.

Sehari setelah kematian Donta, seorang lelaki datang ke sekitaran danau ini. Ia lihat ceruk-ceruk di tanah lunak, lalu segera mengisinya dengan tanah yang ia ambil dengan dua tangan—ia samarkan semua jejak yang ditinggalkan Donta. Setelahnya, di bawah pohon yang sempat juga meneduhi Donta, lelaki itu duduk dan menatap danau dengan khidmat. Dari belakang tubuhnya, angin berhembus dan memberi kesegaran baginya.

Di surga, gerakkan belalaimu dan minumlah sepuasnya, kata lelaki itu pelan, hampir seperti membaca mantra. Kau telah mati membawa gadingmu. [*]

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *