Press "Enter" to skip to content

Puisi-Puisi Siti Nuraisyah

Di Balik Dinding Itu

Di balik dinding itu,

kausembunyikan reruntuhan

juga pecahan kaca air mata

Tubuhmu yang dahaga

meraup segala yang tersisa

membiarkan darah mengalir

dari luka tanganmu untuk kauteguk

Kaususun satu persatu puing

hingga kian tinggi

Tak satu pun kauizinkan masuk

bahkan untuk mengetuk

Pandeglang, 2018


PERJAMUAN

Kami tiba pada sebuah perjamuan. Dalam ruang tanpa atap dengan dinding yang berlubang. Angin meniupnya seperti seruling yang pernah kami mainkan. Di antara rumput ilalang yang tumbuh lebih tinggi dari hidung kami yang beringus.

Saat itu, yang kami tahu hanyalah mengumpulkan buah karsen dan memancing ikan di sungai. Tak pernah ada desing senjata yang disambut ramai ketakutan. Tak pernah ada berita tentang kehilangan. Tak pernah ada. Sebelum kami merasa kehilangan.

Sambutan meriah dari ketiadaan membangunkan kamidari lamunan. Diingatkan olehnya, “tak ada lagi yang tersisa di sini selain kenangan”. “Tak ada apa-apa,” ucapnya lagi. Tapi bersikeras kami mencari. Pada meja makan yang masih berusaha kokoh berdiri.

Pandeglang, 2017


Upaya Menghentikan Waktu

waktu dan kenangan tak pernah berhenti berkejaran

meski tak lagi kanak-kanak kita tetap tak sanggup menghentikan

Yang bisa kita lakukan hanyalah diam

menyaksikan dan memohon agar diri tak lagi digerakkan

Pandeglang, 2018

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *