Press "Enter" to skip to content

Puisi-Puisi Irwan Sofwan

Setelah Hujan Memadamkan Cahaya Lampu-lampu

Setelah hujan memadamkan cahaya lampu-lampu

tak terlihat lagi jalan itu

jalan di mana aku dapat menyusuri namamu sesuka waktu

kota semakin larut. Dan pintu seperti mulai tertutup

aku masih di sini. Menemani suara-suara yang sepi

mencipta dan menata ruang-ruang yang sama

dari sudut-sudut kota

agar kau tahu. Tak pernah aku menyesal untuk datang ke kotamu

agar kau tahu. Bahwa telah aku tuliskan namamu bersama hujan

malam itu

2018


Jadilah Angin

Jadilah angin.

Jadilah angin untuk tahu gejolak dan tenangnya lautan

ketika malam berdesir. Seribu jejak telah saling menguatkan cerita

pada dermaga yang tak akan pernah sirna.

Jadilah angin.

Jadilah angin untuk tahu bagaimana nelayan menebar kehidupan

ikan-ikan yang bersuka bersama anak-anak bahtera

ketika layar mulai dibentangkan. Mereka  bersatu dan bahagia

Jadilah angin.

Jadilah angin untuk tahu bagaimana laut telah menyatukan daratan

ketika langit terasa semakin menjauh. Ia pun tahu bahwa mereka saling merindukan

Serang, 2018


Tanggal-tanggal Berlarian

Tanggal-tanggal berlarian

Mendekat. Pada kemungkinan-kemungkinan

Hari menggeser kakinya yang mulai bengkok

Tepat di angka delapan. Detik menjadi rongsok

Tanggal-tanggal berlarian

Ke arah matamu. Aku pun percaya

Bahwa puisi hanya mampu memberikan kenangan

Bukan keberanian. Kekosongan cerita. Atau pesta cinta

Tanggal-tanggal berlarian

Aku tak dapat mengejar angin yang mengganggu tidurmu semalaman

Ikan-ikan bersedih di dalam kolam

Rindu asalnya alam

Tanggal-tanggal berlarian

Pohon mencari bayang-bayang. Kalender yang kehilangan

Demi waktu yang ada dan menyembunyikan keadaan

Aku telah sampai di hadapan!

Selangor, 2016

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *